Teknik Pembuatan Batik

Nah kalo masalah teknik pembuatan batik sih kurang begitu tahu.Maklum pas pulang ke Madura cuma sempet ke tokonya,and ga sempet lihat “workshopnya”.Tapi pernah juga pas SMU belajar bikin batik buat pelajaran kesenian. Standart aja pake malam plus canting, trus melukis deh. Tapi aku pengen banget lihat workshopnya and nyeritain di blog ini, semoga dalam waktu dekat ini ada kesempatan pulang kampung sekalian merasakan jembatan suramadu..heheheh (InsyaAllah)
Dari beberapa informasi, pembuatan kain batik (biasanya kain yang digunakan adlah mentari sen atau kereta kencana) dimulai dengan proses perendaman dalam air bercampur minyak dempel dan abu sisa pembakaran kayu,lalu direndam dan dicuci. Setelah kain kering selanjutnya proses kanji,tahap disen, dikurik dan ditembok. Kemudian dilanjutkan proses pewarnaan dan proses peluruhan malam dengan memasukkan kain kedalam air mendidih. Terakhir adalah menjemur di terik matahari.
Keunggulan batik tulis Madura dibandingkan dengan batik lainnya yaitu dari segi pewarnaan yang mencolok,merah dan hijau adalah warna khas dari batik Madura. Selain itu Batik tulis Madura sangat jarang memproduksi batik dalam jumlah banyak/massal, sehingga memang benar-benar masih exclusive. matik

Ciri Khas Batik Madura

Batik tiap daerah memiliki kekhasan yang mewakili daerah masing2 pembatik. Kekhasanya ini dipengaruhi oleh lingkungan, biasanya dibedakan antara Batik yang dihasilkan dari daerah pedalaman akan berbeda dengan dengan batik dari daerah pesisir. Kharakter masyarakat setempatpun memiliki pengaruh besar pada hasil akhir dari Batik. Secara garis besar kharakteristik Batik Madura dapat dilihat dari 2 hal, diantaranya : Warnanya & Motifnya.

Dari segi warna, karakteristik warna Batik Madura cenderung memilih warna berani dan tegas, seperti warna Merah, Kuning, Biruh (Hijau dalam Bahasa Indonesia) serta warna Biru sendiri. Warna warna tersebut dihasilkan dari pewarna alam (Soga Alam) seperti Mengkudu dan Tingi untuk menghasilkan warna merah, Daun Tarum untuk warna biru, Kulit mundu ditambah tawas juga diambil untuk memberikan efek warna hijau pada kain batik Madura. Efek terang dan gelapnya pada kain Batik Madura dihasilkan melalui lamanya perendaman kain sendiri, bisa satu bulan, 3 bulan, bahkan ada yg sampai 1 tahun. Perendaman ini juga akan membuat warna kain batik lebih awet dari biasanya.

Motif batik merupakan bagian kritikal dari proses pembuatan kain batik sendiri. Karena goresan canting dan gerak tangan pembatik juga melibatkan pikiran & hatinya, sehingga apa yang tergores pada kain batik menjadi motif yang akan cukup menarik minat pecinta batik. Ragam Motif Madura sangat banyak, diambil dari motif tumbuhan, binatang, serta motif kombinasi hasil kreasi pembatik sendiri. Kalo di Pamekasan sendiri motif batik seperti Sekarjagat, Keong Mas, Matahari, Daun Memba (daun mojo), Gorek Basi. Beberapa motif batik Pamekasan, yang sudah di patenkan di Depkumham, seperti Keraben sapeh, sakereh, Kempeng saladerih, padih kepa’, manik-manik.

Ciri khas lainnya yg dimiliki dari Batik Madura adalah banyaknya tarikan garis pada satu desain Batik (diolah dari berbagai sumber)

Tips Merawat Batik

Mencuci Batik
Batik sebaiknya dicuci dengan sabun khusus untuk mencuci batik, atau jika tidak sempat membelinya cukup dengan shampoo rambut yg dilarutkan dengan air agar tidak ada bagian shampoo yg mengental. Ada juga buah Lerak atau daun tanaman dilem yg dapat digunakan untuk mencuci batik asal sebelumnya direndam dulu dalam air hangat,diremas-remas buah lerak atau daun dilem sampai berbusa dan tambahkan air. Jika batik bernoda, bisa dihilangkan dengan sabun atau kulit jeruk yang diusapkan dibagian yang kotor.
Jemur di tempat teduh dan dibagian tepi/ujung batik ditarik perlahan agar serat tidak rusak.
Untuk pencucian pertama pada batik tulis yang kaku karena kanji atau malam/lilin bisa dilemaskan dengan merendam dalam air panas

Menggosok Batik
Gunakan suhu panas yang rendah
Batik yang sangat kusut bisa disemprotkan sedikit air diatas kain batik lalu sehelai alas kain diletakkan diatasnya baru disetrika.
Jika ingin memberi pewangi atau pelembut kain, sebaiknya kain ditutupi dulu dengan Koran dan semprotkan dibagian atas Koran.

Menyimpan Batik
Batik sebaiknya simpan dalam plastic agar tidak dimakan ngengat, atau beri sedikit merica atau cengkeh yang dibungkus tisu di lemari tempat menyimpan batik
Jika disimpan dilemari jangan diberi kapur barus karena sangat keras dan bisa merusak batik.
Sebulan sekali keluarkan batik dalam lemari penyimpanan,angina-anginkan selama 1 jam, bersihkan lemari dan gunakan alas roti sebagai alas lemari. Jangan menggunakan kertas Koran yang tintanya bisa merusak batik

Rule of thumb nya :
Jangan mencuci dengan detergen, dan sebaiknya juga tidak menggunakan mesin cuci
Jangan menyemprotkan perfume langsung pada kain batik terutama batik sutera dengan pewarna alami

(dari berbagai sumber)

Eksotisme Batik Madura

Ketika menyebut Madura, yang terlintas di benak sebagian orang adalah “sangar”. Maklum saja, selain perawakan orang Madura yang rata-rata tirus, gempal, kaku, berkulit legam dengan logat bicara yang temperamental (seperti orang marah) salah satu stereotip miring soal Madura adalah carok. Peristiwa carok di tanah kelahiran Jokotole ini selalu menjadi pembicaraan serius banyak kalangan. Mulai dari orang awam sampai antropolog.

Tapi jangan salah. Tak semua tanah Madura berwarna darah. Sama seperti laut, tak semua laut penuh dengan badai dan gelombang. Jauh di dasar laut yang keras itu, pasti tersimpan mutiara yang tak ternilai Indahnya. Begitu juga Madura.

Madura juga penuh dengan eksotisme. Barangkali yang paling eksotis dari Madura bagi sebagian orang adalah karapan sapi. Tiap kali even karapan sapi piala presiden, tak sedikit turis yang rela turun ke pulau garam ini. Kesenian-kesenian lain seperti daol, saronen, tayup, dan tari-tarian lainnya juga mulai jadi referensi para wisman untuk menjelajahi keunikan Madura. Soal oleh-oleh khas Madura? Tak perlu risau, ada camilan khas Madura dan Batik.

Tapi Tulisan ini tak akan berbicara semua eksotisme Madura. Melainkan hanya akan mengulas panjang lebar soal Batik.

Hingga saat ini batik Madura yang dikenal luas oleh para pelancong adalah Batik Tanjung Bumi, Bangkalan dan Batik Banyumas Pamekasan. Dalam beberapa kali pameran UKM nasional dua jenis batik itu yang paling ditonjolkan. Motif dari kedua batik itu beragam. Bahkan disinyalir bisa mencapai ratusan motif. Mulai dari motif aslinya maupun kombinasi satu sama lain dari motif aslinya. Diantara motif yang banyak dikenal (dan diminati) diantaranya; Sessek, Ramok, Rawan, Carcena, Memba, Panji, Napasir, Katupat, Kembang Pot, Pereng Basa, Truki Melati, dan Okel.

Sebenarnya apa yang membuat Batik Madura mempunyai citra estetik tinggi? Pertama, aroma lilinnya (malan) yang khas. Pasalnya campuran malan batik kerap dicampur dengan Madu. Dengan campuran sari bunga yang dikumpulkan lebah itu, bau karbon yang menyengat pada malan jadi netral. Bahkan baunya jadi unik. Berikutnya, cipratan warnanya yang bukan hanya terkesan sangar tapi juga magis. Warna batik Madura biasanya dididominasi oleh kesan warna yang ‘berani’ (merah, kuning, hijau).

Pemilihan warna itu tentu saja tidak tanpa alasan. Sekedar diketahui, kebudayaan Madura sejatinya adalah titisan kebudayaan Majapahit. Warna merah dipilih karena panji Majapahit adalah warna merah dan putih (itu pula yang menjadi cikal bakal bendera Indonesia ). Warna hijau, karena berhubungan dengan religi. Masa kejayaan Majapahit adalah masa kejayaan agama Hindu. Dalam hindu Pepohonan termasuk bagian dari pemujaan terhadap para dewa. Sementara kuning dipilih sebagai pembatisan terhadap bulir-bulir padi sebagai penopang ekonomi masyarakat agraris. Dengan lain kata pemilihan warna itu sebenarnya hendak bercerita tentang akulturasi kebudayaan Majapahit-Madura.

Ketika awal-awal perkembangan batik di zaman Majapahit, motif-motif batik hanya didominasi oleh motif binatang dan tumbuhan. Itu menunjukkan betapa kuatnya spiritualitas Majapahit( baca hindu). Dari kedua motif itu, motif binatang paling banyak diminati dibandingkan tumbuhan. Bahkan motif burung garuda menjadi motif paling sakral karena hanya boleh dipakai oleh tentara Bhayangkara yang dikomandani oleh Patih Gajah Mada.

Awalnya busana batik hanya dikenakan raja, punggawa kerajaan dan tentara majapahit. Namun sering dengan perkembangan waktu serta semakin meningkatnya kemajuan ekonomi kerajaan majapahit, aktivitas membatik dan mengenakan busana batik mulai diikuti masyarakat di sekitar kerajaan. Bahkan dari situpulalah muncul para perajin batik, yang bersanding dengan para perajin keris yang pada masa itu juga tak kalah larisnya. Begitulah, terus menerus hingga kini home industri batik juga mulai merambah di berbagai penjuru hingga akhirnya sampai juga ke tanah Madura. Dan kini juga mulai menggeliat lagi seiring dengan mulai tumbuhnya usaha pariwisata berbasis lokalitas di negeri ini. Tentunya dengan berbagai variasi motif yang beragam.

Satu hal yang tidak bisa disangsikan dari keunikan batik Madura adalah proses pembuatannya. Tradisi membatik di Madura salah satunya yang terkenal dengan Batik Genthongan. Disebut genthongan karena proses pewarnaanya terlebih dahulu direndam dalam wadah mirip gentong. Konon katanya kain direndam selama dua bulan, kemudian lembaran kain batik disikat untuk menghilangkan sisa lilin/malamnya. Proses macam ini, selain untuk membuat warna batik lebih awet, juga memunculkan warna terang dan gelap pada kain batik. Batik Genthongan cukup dikenal luas karena kekuatan warnanya yang bisa bertahan hingga puluhan tahun. Karenanya jangan heran jika batik ini cukup mahal harganya dibandingkan dengan batik biasa. Selain bahan kainnya dipilih yang terbaik, juga pewarnanya menggunakan pewarna alami. Yang diracik dari sari tumbuhan pilihan. Soga alam khas Madura berasal dari Mengkudu dan Tingi untuk menghasilkan warna merah. Hijau berasal dari kulit Mundu ditambah tawas, Daun Tarum digunakan jika ingin memberikan efek warna biru.

Kesemuanya itu diramu oleh tangan-tangan terampil dengan imajinasi seni tingkat tinggi sehingga menghasilkan motif batik yang beragam dan unik, khas pulau Madura. Jadi tidak terlalu berlebihan jika batik Madura menjadi pilihan bagi mereka yang menyukai busana-busana bernuansa etnik tapi tidak kampungan. (by Mr. EM)

Batik Madura motif bunga

Batik Tulis Sutera